Kiri Sosial membuka ruang bagi kawan-kawan yang ingin berkontribusi pada Kirisosial.blog. Kami menerima kontribusi dalam bentuk artikel terjemahan yang memuat tentang inspirasi gerakan yang partisipatif atau tentang inspirasi persatuan. Silahkan kirim terjemahan anda melalui inbox FB atau kirim melalui kirisosial@gmail.com. Terimakasih

Jelang Rencana Mogok Umum Brasil 30 Juni 2017



Brasil: Kaum borjuis terbelah - Saatnya untuk maju!

Pemerintah Temer berusaha mempertahankan kekuasaannya, dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mempercepatnya dengan undang-undangnya yang menyerang kelas pekerja. Kemarin pendukung Termer di Parlemen menyetujui laporan Komite Urusan Ekonomi '(CAE) mengenai Reformasi Perburuhan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa pemerintah ini, meski tidak memiliki basis sosial apapun, mungkin masih berguna bagi para ahli kapitalisnya.

Dalam sebuah pernyataan, Temer merasa gembira atas pertumbuhan 1% GDP yang ditunjukan pada tiga bulan pertama tahun ini, dan memuji hasilnya sebagai "kebangkitan kembali ekonomi Brasil di atas pondasi yang solid dan berkelanjutan". Tapi benarkah begitu?

Bahkan para analis borjuispun bersikap hati-hati dan hanya siap untuk menyatakan bahwa paling banter kemerosotan ekonomi berhasil dihentikan—bukan pertumbuhan. Dibandingkan dengan tiga bulan pertama pada tahun lalu, telah terjadi penurunan 0,4% dalam pertumbuhan PDB. Jumlah pertumbuhan kecil yang Temer bicarakan terjadi setelah lebih dari dua tahun mengalami penurunan.

Tingkat pengangguran masih pada level yang tinggi; Menurut Institut Geografi dan Statistik Brasil (IBGE), jumlah pengangguran lebih dari 14 juta. Konsumsi rumah tangga dan investasi swasta keduanya terus turun. Tidak ada indikasi apapun tentang "dasar yang kokoh dan berkelanjutan" bagi perekonomian.

Krisis dan perpecahan di kalangan borjuis

Krisis ekonomi bergejolak menuju krisis politik. Sektor borjuis, yang bersekutu dengan imperialisme AS dan mengikuti kebijakan "pembersihan musim semi (spring-cleaning)", telah mengalami jalan buntu. Setelah bergerak untuk mengakhiri pemerintahan Temer, melalui aksi “whistleblower” rekaman suara pengusaha JBS dan lain-lain, mereka justru menghadapi kebuntuan karena tidak memiliki kandidat pemersatu yang mampu menstabilkan situasi.



Pada tingkat internasional, kaum borjuis terbagi dan hal itu juga direfleksikan di Brasil. Ini bisa dilihat dari editorial surat kabar utama borjuis. Globo telah menuntut pengunduran diri pemerintah dan telah meminta pemilihan Presiden tidak langsung; Sementara itu, Folha mendukung intervensi Pengadilan Tinggi Pemilu (TSE) dan pemilihan langsung; Sedangkan Estadão mengkritik penyalahgunaan investigasi Lava Jato dan menyerukan agar mempertahankan agenda ekonomi pemerintah saat ini.

Demokrat (DEM) dan Partai Demokrasi Sosial Brasil (PSDB) di internal terbelah antara yang bertahan di pemerintahan dan meninggalkannya. Bahkan peradilanpun terbelah, seperti yang dapat dilihat dalam kasus persidangan aliansi elektoral Dilma-Temer yang saat ini dilakukan oleh TSE; Dan juga bisa dilihat dalam percekcokan baru-baru ini dengan hakim di Mahkamah Kontitusi (Supreme Federal Court).

Jalan reformis dan posisi kaum Marxis

Front Luas untuk Hak Sekarang Juga ( A Wide Front for Rights Now) telah terbentuk, mencakup hampir semua kekuatan kiri: the Frente Brasil Popular and the Frente Povo Sem Medo; the Workers' Party (PT), the PDT and the PSOL, CUT, CTB, UGT and Intersindical, UNE, MST and MTST, serta organisasi dan gerakan lainnya. Pernyataan Front berbunyi: "Hanya pemilihan langsung dan kedaulatan rakyatlah yang dapat menegakkan legitimasi sistem politik". Kalimat ini merangkum semua masalah yang terkandung dalam semboyan, "legitimasi". Pemilu baru hanya bisa membantu sedikit untuk memulihkan sedikit legitimasi yang sebenarnya sudah hilang. Bukanlah suatu kebetulan bahwa sebagian kecil kaum borjuis, sebagaimana editorial Folha mengungkapkan, mendukung rute yang sama ke depan.

Kaum reformis tidak sanggup melampaui demokrasi borjuis. Dalam kasus PT, alasan mereka cukup jelas: mereka ingin mempercepat Lula sebagai Presiden—dari Pemilu yang harusnya 2018, ke tahun 2017 ini-- dengan mengambil keuntungan dari keunggulannya dalam survey tersebut. Tapi seandainya Lula menjadi Presiden, ini hanya bermakna keberlanjutan dari program penghematan dan anti perubahan, yang akan mengubur baik PT maupun Lula sebagai pemimpin gerakan buruh.



Marxis revolusioner sebaliknya mampu melampaui batas demokrasi borjuis dan menunjukkan jalan menuju penghapusan sistem kapitalis dan membangun masyarakat sosialis baru. Bertarung untuk pemillu yang lebih banyak bukanlah solusinya.

Esquerda Marxista* berpendapat bahwa dalam menghadapi kegagalan yang luar biasa dari institusi borjuis, peran kepemimpinan gerakan pekerja seharusnya adalah untuk menjelaskan bahwa hanya pengorganisasian massa yang dapat membuka jalan bagi kelas pekerja secara positif maju kedepan.

Ini adalah perjuangan terpadu melawan reformasi kesejahteraan dan perburuhan yang lebih buruk; Reformasi yang lebih buruk di pendidikan dan outsourcing; Melawan Pemerintah dan Parlemen Nasional; Dan pertarungan untuk pembangunan pemerintahan kelas pekerja sejati yang memungkinkan kelas pekerja memanfaatkan perpecahan di kelas penguasa, demi memajukan perjuangannya sendiri ke depan.

Inilah yang terjadi pada pemogokan umum tanggal 28 April dan demonstrasi besar di Brasilia pada tanggal 24 Mei, dan apa yang harus diungkapkan pada pemogokan umum yang akan datang pada tanggal 30 Juni. Namun, kita harus menunjukkan bahwa pemogokan umum 24 jam atau bahkan 48 jam tidakla cukup. Yang diperlukan adalah pemogokan hanya akan berkahir jika semua serangan neoliberal ditarik. Bagaimanapun, kita akan secara aktif berpartisipasi dan memobilisasi untuk pemogokan 30 Juni dan akan mendorongnya melampaui maksud para pemimpin reformis.

Untuk memperkuat pergerakan massa dan untuk memperkuat organisasi gerakannya, kami menganjurkan untuk diadakannya Konferensi Nasional Kelas Buruh untuk mengumpulkan semua serikat pekerja, mahasiswa dan gerakan rakyat, untuk ikut memberikan suara dan pemungutan suara yang melibatkan basis gerakan, sehingga bisa melewati penyumbatan oleh pimpinan-pimpinan kolaborator.

Krisis semakin dalam, kaum borjuis berada dalam posisi buntu dan perjuangan kelas memanas. Dalam situasi ini, hanya mobilisasi kelas pekerja – yang terlepas dari borjuasi - dapat membuka jalan ke depan. Kami mengatakan tidak pada Temer dan tidak pada Parlemen Nasional, kami memperjuangkan Pemerintahan Kelas Pekerja dan kami menuntut perlunya Majelis Nasional Rakyat untuk membuka jalan menuju revolusi melawan sistem kapitalis, institusi-institusinya, partai-partainya dan semua antek-anteknya.


*Esquerda Marxista atau Kiri Marxis (adalah seksi dari International Marxist Tendency atau Tendensi Marxis Internasional di Brasil)


Sumber : https://www.marxist.com/

No comments

Powered by Blogger.