Kiri Sosial membuka ruang bagi kawan-kawan yang ingin berkontribusi pada Kirisosial.blog. Kami menerima kontribusi dalam bentuk artikel terjemahan yang memuat tentang inspirasi gerakan yang partisipatif atau tentang inspirasi persatuan. Silahkan kirim terjemahan anda melalui inbox FB atau kirim melalui kirisosial@gmail.com. Terimakasih

GERAKAN MAHASISWA MENDUKUNG MAYDAY 2017: GERAKAN BURUH UNTUK RAKYAT



MayDay 2017: Buruh akan membangun persatuan antar rakyat, yakni jalan persatuan rakyat itu senditi. Jalan untuk melawan semua kebijakan model kapitalime-neoliberal, dan mendorong seluas-luasnya partisipasi rakyat dalam hak-hak berorganisasi-berserikat, menyuarakan pendapat, hingga terlibat penuh dalam pengambilan keputusan (dan kontrol) terhadap berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak.

Pernyataan itu sekaligus komitmen bagitu perjuangan buruh yang akan mengambil peranan aktif dalam perjuangan rakyat. Itulah mengapa Gerakan Buruh untuk Rakyat diusung sebagai wadah penyatuan gerakan, terdapat 18 organisasi di antaranya buruh, mahasiswa, petani, perempuan, seniman, aktivis HAM dsb. (Lihat di sini Pernyataan Sikap Gerakan Buruh untuk Rakyat)

Dan pada 1 Mei nanti, 10 ribu buruh akan turun aksi mengajak seluruh elemen rakyat untuk bersama-sama bergerak, menggugat Jokowi yang har ini sudah tidak dapat diharapkan lagi menjawab kesejahteraan rakyat.  

Dalam proses pembangunan wadah persatuan ini, gerakan mahasiswa juga turut serta mendukungnya. Mahasiswa juga memberikan pernyataannya, bahwa gerakan mahasiswa-pelajar tidak akan bisa berjuang sendiri, tidak bisa dipisahkan dari rakyat yang berjuang, melainkan sudah waktu menyusun langkah perjuangan bersama. Begitupun seruan dari mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Indonesia ini  yang mangajak akademisi kampus-sekolah untuk turut serta mendukung dan memperkuat persatuan gerakan rakyat, bahwa tradisi akademik seharunya menjadi kekuatan bagi perjuangan rakyat, bukan korporat.

Inilah pernyataan Aliansi Mahasiswa Indonesia:

PERNYATAAN SIKAP MAYDAY 2017:
STUDEN BERSAMA GERAKAN RAKYAT




Semenjak runtuhnya Orde Baru di tahun 1998, selama lebih dari satu dekade terakhir ini, gerakan rakyat mulai tumbuh subur di Indonesia. Suara rakyat terus bergema di jalan-jalan, pabrik, kampung hingga universitas menyambut demokrasi yang lebih terbuka. Seiring dengan euphoria menyambut era reformasi, sesungguhnya rakyat sedang dihantarkan ke depan pintu gerbang penjajahan gaya baru, yaitu globalisasi dan pasar bebas.



Dan kini, model kebijakan ekonomi dan politik paska Orde Baru tak juga mengutamakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Salah satu indikator masih terpuruknya kesejahteraan rakyat (mayoritas kelas pekerja) Indonesia adalah dari angka pengangguran yang cukup tinggi, yaitu 7.02 Juta orang. Termasuk pengangguran, tenaga kerja muda usia 15 sampai 24 tahun adalah jumlah jauh lebih tinggi dari angka rata-rata pengangguran secara nasional. Mahasiswa yang baru lulus dari universitas dan siswa sekolah kejuruan dan menengah mengalami kesulitan menemukan pekerjaan di pasar kerja nasional. Pun rakyat yang hanya memiliki ijazah sekolah dasar saja sangat tinggi, yaitu 997.554 orang. 


Laju pembangunan infrastruktur pun tidak ubahnya pada masa Orde Baru (tunduk pada pemodal), dimana model ekonomi-politik yang hanya mengutamakan investasi, pemerataan, pertumbuhan ekonomi yang terbukti gagal masih diterapkan—secara nyata telah menghancurkan sendi kehidupan rakyat, dimana pembangunan nasional yang sedang berlangsung hari ini hanyalah demi kebutuhan segilintir orang dari kekayaan alam dan kerja manusia. Sangat mudah kita temuijutaan keluarga buruh yang telah kehilangan hak hidup layak. Kehilangan pekerjaan karena efisiensi produksi dan system kerja kontrak outsorching, dan sialnya kebijakan mengenai kerja magang kini sekali lagi memeras tenaga buruh dengan sangat murah bahkan gratis.Model ekonomi-politik saat ini pun membuat rakyat kehilangan tempat tinggal karena kebijakan alih fungsi lahan, terjerat utang akibatnya daya beli yang terus menurun.Subsidi kesehatan dan pendidikan dicabut, rakyat harus membayar sendiri bahkan setiap tahun harganya naik,dsb.

Secara politik, rakyat tidak pernah dilibatkan dalam menentukan model pembangunan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat. Rakyat hanya dilibatkan hanya dalam pemilu yang sudah usang dan dipenuhi oleh partai-partai penindas pun kebijakan demokrasi yang hanya menguntungkan penguasa modal, sehingga sangat kecil kemingkinan rakyat dapat menentukan atau menjadi pemimpin atas perjuangannya melawan kapitalisme.

Mayday 2017 ini akan menjadi salah satu momentum menguji persatuan gerakan rakyat di Indonesia. Beberapa unsur gerakan buruh tidak hanya bicara sekup persoalan normative buruh saja, akan tetapi meluas ke persoalan rakyat secara umum. Isu perampasan lahan, eksplotasi sumber daya alam, sector pendidikan dan kesehatan hingga soal korupsi dan demokrasi menjadi isu bersama gerakan buruh bersama gerakan rakyat yang lain. Gaung solidaritas dan persatuan gerakan rakyat, menjadi salah satu jalan keluar dari kehancuran kehidupan social kelas buruh dan rakyat Indonesia, dibawah represi system kapitalisme. Mayday 2017 sekaligus menjadi momentum untuk mempertegas posisi gerakan rakyat terhadap rezim, bahwa sudah saatnya gerakan rakyat bersatu membangun kekuatan politiknya untuk merebut kedaulatan politik dan ekonomi. 



Akademisi dan Mahasiswa-Pelajar Bersatulah serta Mendukung Persatuan Gerakan Rakyat




Model pembangunan yang kapitalistik mempunyai pengaruh besar dalam melahirkan satu bentuk budaya dan model berpikir dan arah model pendidikan kini. Karena ilmu yang disampaikan kepada peserta didik adalah ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi dengan dunia masyarakat konsumtif semata.Proses pembelajaran pun ditekankan kepada upaya untuk mengakumulasi dan memiliki ilmu pengetahuan yang ditujukan untuk mengejar profit. Tak heran, universitas masa kini dibuat sededmikian rupa sebagaiinstitusi yang mencetak generasi apatis dan naif, yang menempatkan persoalan kemiskinan dan pembodohan sebagai persoalan individu, bukan persoalan structural. Bahkan untuk memikirkan bagaimana model pendidikan pun pembangunan kesejahteraan tidak terbesit, pun akademisi atau guru besar yang secara kapasitas memumpuni tidak juga mengeluarkan resolusi menggantikan model pembangunan yang kapitalistik ini.



Argument tersebut segera terbantahkan oleh serangkaian aksi-aksi perlawanan terhadap model pembangunan kini. Jika gerakan mahasiswa secara perlahan mulai bertransformasi bukan lagi sebagai gerakan almamater yang mengklaim diri agen perubahan. Tetapi gerakan mahasiswa mulai menyadari bahwa perjuangan kaum muda, mahasiswa dan pelajar adalah perjuangan yang tak bisa dipisahkan dengan perlawanan rakyat. Demikian juga akademisi sangat penting memanfaatkan pengetahuan untuk kemajuan ekonomi-politik agar ada serangkaian rumusan atas masalah-masalah sosial hari ini dengan gagasan yang lebih mementing pembangunan mansuia. Dan dengan sadar menyadari bahwa titik persoalan kemiskinan dan pembodohan hari ini berakan dari system menghancurkan kemanusiaan. 



Itulah mengapa gerakan mahasiswa-pelajar dan akademisi segeralah menyatukan diri di sekolah maupun di kampus, dan secara aktif menyuarakan isu-isu rakyat seperti BBM, TDL, upah murah, hingga menyusun model alternatif dari pembangunan kesejataraan dan kedaulatan rakyat.

Embrio penyatuan akademisi dan mahasiswa sudah semakin terang, salah satu contoh, gerakan solidaritas untuk perjuangan petani Kendeng dan isu eksploitasi lingkungan yang mendapat respon luas dari dari 84 gerakan mahasiswa atas nama kampus. Selanjutnya 194 akademisi dari berbagai kampus di Indonesia menyatakan dukungannya untuk petani Kendeng. Tentu saja solidaritas dari kalangan lain juga, seperti buruh, rakyat korban gusuran, gerekan perempuan, aktivis HAM, dsb. Berdasarkan posisi keberpihakan akademisi dan mahasiswa inilah merupakan kesempatan untuk bertemu untuk memulai pergerakan bersama untuk mendukung perjuangan rakyat.


Karenanya,Aliansi Mahasiswa Indonesia menyerukan kepada seluruh mahasiswa-pelajar dan akademisi:

  • Lawan Korupsi: Pecat Penjara dan Miskinkan para Koruptor.

  • Tegakkan Demokrasi: Lawan Militerisme, Rasisme dan Diskriminasi.

  • Kedaulatan atas Sumber Daya Alam: Rakyat Berhak Menentukan Pengelolaan SDA dengan cara Konsultasi Rakyat dan Referendum.

  • Tuntaskan Konflik Agraria dengan Cara Partisipasi Rakyat melalui Konsultasi Rakyat dan Referendum.

  • Pendidikan dan Kesehatan: Rakyat Berhak Mengakses Sekolah/Universitas dan Rumah Sakit Berkualitas Tanpa Biaya.

Kedepan, ayo menyatukan diri dalam gerakan rakyat, ada begitu banyak momentum: Mayday, Hardiknas, Marsinah, Trisakti, Kejatuhan Orde Baru, dan momen-momen seterusnya untuk dapat melakukan konsolidasi/rapat akbar/gathering atau semaacamnya memulai perbuahan Indonesia bahkan dunia.


Tertanda, 

Keluarga Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Federasi Mahasiswa Kerakyatan


Serikat Mahasiswa Indonesia



Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi



Serikat Pemuda Mahasiswa Indonesia

Gerakan Perjuangan Mahasiswa Jakarta



Kontak Person
Hasim (081347166489)
Ridwan (08577431646)
Xenos (083138139517)

No comments

Powered by Blogger.