Kiri Sosial membuka ruang bagi kawan-kawan yang ingin berkontribusi pada Kirisosial.blog. Kami menerima kontribusi dalam bentuk artikel terjemahan yang memuat tentang inspirasi gerakan yang partisipatif atau tentang inspirasi persatuan. Silahkan kirim terjemahan anda melalui inbox FB atau kirim melalui kirisosial@gmail.com. Terimakasih

SEKAT SEKTORAL YANG DIRONTOKAN; MAY DAY 2017

Pembangunan buat siapa?
Coretan Budi Wardoyo


Pertanyaan yang lebih tajam, model pembangunan bagimana yang membawa mannfaat bagi rakyat banyak?

Saat para petani melakukan protes-protes atas kehadiran investor di tanah-air nya, atau saat nelayan melakukan protes-protes atas kehadiran investor di ruang hidup nya, atau saat buruh melakukan protes atas kesulitan-kesulitan hidupnya, atau saat rakyat resah atas semakin tercemarnya lingkungan atau saat para pelajar sedang protes atas kenaikan biaya pendiidkan, dan banyak protes-protes lainnya----sebenarnya semuanya terkait pada satu hal; Pembangunan ini buat siapa? RJPM buat siapa? Paket-paket kebijakan ekonomi buat siapa?



Lalu, mulailah muncul pertanyaan2 kritis....

Jika model pembangunan sekarang bukan buat mayoritas rakyat, model pembangunan seperti apa yang bisa membawa manfaat buat mayoritas rakyat, yang tisak merusak lingkungan, yang mneyediakan akses seluasnya untuk mendapatan kebutuhan pangan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan-kebutuhahn lainnya--energi, transportasi dan lain-lain.

Pertanyaan kritis ini juga diikuti dengan pertanyaan lainnya, apakah model pembangunan yang baru, bisa dijalankan jika tanpa patisipasi rakyat---dalam model pembangunan sekarang; misal soal penyusunan RJPM atau Peket-paket kebijakan ekonomi, Rakyat ( betul-betul rakyat bukan perwakilan rakyat) tidak dilibatkan sama sekali, rakyat hanyalah obyek--yang kemudian tersingkirkan.

Rakyat tak hanya dilibatkan dalam perencanaan, bahkan ketika sudah berjalan, rakyat tak punya koontrol atas pelaksanaan pembangunan yang merugikan rakyat---malah dianggap kriminal, penjahat, perusuh.

Dan jika ini mengenai partisipasi rakyat, maka ini bukan soal ganti Presiden, atau semata-mata menganti para pejabat, ini berkaitan dengan konsep besar, perubahan besar, perubahan sistem, soal transformasi--bukan reformasi tambal sulam.

Di titik inilah, sekarang gerakan kita berpijak--yaitu titik dimana gugatan-gugatan rakyat semakin berkembang luas--protes dari skala kecil hingga skala besar, muncul di mana-mana, namun belum menyatu pada muara yang sama----muara perjuangan untuk mmebangun model pembangunan yang baru, dengan partsipasi rakyat sebagai penentu--yang artinya juga menganganti model kekuasaan hari ini.

Solidaritas Kendeng (juga solidaritas antar rakyat lainnya) dan MAY DAY 2017

Begitulah gerak perjuangan, ditengaah berbagai hambatan—baik hambatan dari luar; kriminalisasi, berbagai bentuk-bentuk pelarangan, stigma-stigma negatif melalui media-media massa maupun buzzer-buzzer di media sosial, serta hambatan-hambatan internal gerakan---perpecahan, perselisihan, gap pengetahuan-pengalaman satu dengan lainnya, namun irisan-irisan himpunan pergerakan rakyat terus terjadi.

Dalam kasus Kendeng, solidaritas itu datang bagaikan air hujan yang menyuburkan tanaman, kalangan mahasiswa dari banyak sekali kampus begerak memberikan dukungan---bukan hanya di Jawa saja, melainkan di seluruh Indonesia, begitu juga kalangan akademisi---ratusan akademisi, baik yang bergelar Prof maupun Doktor, atau Master, ratusan akademisi ini bersikap tegas membela Kendeng. Pun kalangan NGO/LSM, bukan saja NGO lingkungan atau NGO yang bergerak di persoalan agraria saja, namun hampir semua NGO juga terlibat memberikan dukungan. Juga aktivis-aktivis perempuan, tokoh-tokoh agama dan organisasi keagamaan juga membela Kendeng. Kalangan seniman, grup-grup musik (seperti misalnyanya Marginal, Simponi dll) menjadi bagian penting dalam solidaritas ini, termasuk gerakan buruh juga terlibat dalam solidartas terhadap Kendeng.

Bagi gerakan buruh, solidaritas Kendeng ini telah membuka sekat yang sebelumnnya masih membatasi perjuangan buruh--- yang mayoritas membatasi perjuangan buruh hanya untuk buruh, walaupun ada sebagian kecil gerakan buruh yang telah terlebih dahulu menceburkan diri dalam perjuangan rakyat secara luas—misalnya kawan-kawan buruh di Bekasi yang menjadi garda terdepan dalam perjuangan rakyat untuk mendapatkan akses kesehatan, dan beberapa kali juga menjadi bagian penting yang menggerakan rakyat untuk menuntut persoalan akses atas air bersih.

Sekat yang selama ini membatasi perjuangan buruh telah dirontokkan, sehingga dalam MAY DAY 2017 (Peringatan hari buruh internasional), Gerakan buruh yang dimotori oleh Konfederasi Buruh Indonesia (KPBI), sebuah konfedrasi yang baru berusia kurang lebih setahun, menetapkan tema aksi MAY DAY 2017 adalah “Buruh untuk Rakyat”yang artinya untuk ke depannya, Gerakan Buruh—terutama KPBI, walau bukan hanya KPBI saja, karena ada juga SGBN dan kawan-kawan buruh lainnya—akan membuka ruang bagi upaya-upaya untuk mencari gagasan bersama yang mencakup perjuangan rakyat secara keseluruhan, sekaligus menjadi bagian yang paling aktif untuk membangun konsolidasi gerakan rakyat (tanpa harus memaksakan gagasan-gagasannya sebagai yang paling benar---karena mempunyai kekuatan massa yang signifikan)

Sebuah konsolidasi rakyat yang punya kesanggupan mendorong lahirnya perubahan besar, transformasi fundamental di Indonesia, tanpa melupakan solidaritas bagi seluruh perjuangan rakyat di seluruh Dunia.





























No comments

Powered by Blogger.