Kiri Sosial membuka ruang bagi kawan-kawan yang ingin berkontribusi pada Kirisosial.blog. Kami menerima kontribusi dalam bentuk artikel terjemahan yang memuat tentang inspirasi gerakan yang partisipatif atau tentang inspirasi persatuan. Silahkan kirim terjemahan anda melalui inbox FB atau kirim melalui kirisosial@gmail.com. Terimakasih

MEMBANGUN MEDIA PARTISIPATIF MELAWAN MEDIA KOORPORAT

Mídia NINJA meeting. Photo: Natália Mazottee
Mídia NINJA: Fenomena alternative jurnalisme yang muncul pada aksi protes di Brazil

Oleh :Natalia Mazotte/AM
25 Juli 2013

Sebuah fenomena media telah lahir di Brazil pada saat kebangkitan protes masal yang baru-baru ini menyebar ke penjuru negeri sejak bulan Juni. Kolektif berita Midia NINJA, melakukan siaran live dari jalan-jalan dengan model pemberitaan “tanpa potongan, tanpa sensor”, telah menarik perhatian dan kekaguman ribuan orang di beberapa minggu belakangan ini.


Bukan sekedar mengacu dari sebuah klan kuno Jepang, NINJA merupakan singkatan dari “Independent Narratives, Journalism and Action”. Dan penekanannya terletak pada kata terakhirnya yang merupakan cakupan sekaligus pemicu perdebatan apakah masih masuk akal memisahkan jurnalisme dari pergerakan.


NINJA biasanya menggunakan ponsel dan perangkat 4G lainnya untuk melakukan siaran, dan lebih mengedepankan improvisasi ketimbang skrip yang telah disiapkan. Memang livecasting kegiatan-kegiatan publik bukan sesuatu yang baru, namun trend ini cukup mengalami peningkatan berkat munculnya fenomena NINJA, yang telah mampu mencapai 100.000 penonton. NINJA menshare kontennya melalui media sosial dan menerima respon jauh melebihi dari jumlah interaksi media terbesar Brazil per lamannya. NINJA telah mendapatkan lebih dari 120.000 likes per postingan di facebooknya, yang baru saja diaktifkan 4 bulan lalu.


Daya tarik NINJA juga terlihat dari saat diadakannya pertemuan kolektif terbuka NINJA, yang menarik ratusan individu untuk bersukarela bergabung dalam kolektif NINJA. Pada salah satu pertemuan terakhir, pada tanggal 23 Juli di Fakultas Komunikasi Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ), banyak partisipan menjelaskan dukungannya: “Kami merasa terepresentasikan dengan cara kalian menyiarkan berita. Versi sejarah yang kalian hasilkan jauh lebih dekat dengan versi fakta yang kami saksikan sendiri,” menurut salah seorang partisipan. Dan langsung disambut tepuk tangan.


Bagi ninja Filipe Pecaha, media independen mulai menarik lebih banyak perhatian ketimbang media-media besar. “Kami telah menjadi acuan refrensi baru selama masa protes, dan masyarakat menunujukan dukungannya pada hasil kerja kami. Hal yang sebaliknya terjadi pada reportase dari media besar Globo (jaringan TV terbesar di Brazil).” Pada tanggal 22 Juli, Pecanha ditangkap oleh polisi militer pada saat sedang meliput aksi massa dekat istana Guanabara (kantor pemerintah daerah Rio de Janeiro) dengan tuduhan “menghasut kekerasan.” Beberapa jam kemudian Pecanha dibebaskan bersama dengan ninja kedua yang juga ditangkap. Keduanya tetap menunggu hingga pagi dekat kantor kepolisian sampai para ninja lainnya dibebaskan.


Jurnalisme aktivis

Keterlibatan yang menempatkan reporter pada sisi massa aksi, adalah kunci daya tarik kolektif ini, menurut Ivana Bentes, dekan Fakultas Komunikasi UFRJ. “Ninja bekerja secara langsung dari dalam keriuhan aksi massa dan hasrat partisipasi sosial. Ini merupakan bentuk narasi yang jauh lebih menarik ketimbang versi corporativist yang ditawarkan oleh jurnalisme normal.”


Gerakan ini berada di luar lingkaran tradisional jurnalisme, yang seringkali membuntuti fakta dari jauh tanpa terpengaruh olehnya. Pada banyak siaran NINJA, penonton dapat berlari bersama massa dan menyaksikan reaksi para ninja pada saat bentrok antara polisi dengan massa, hampir seperti berada langsung di dalam film action.


Bagi Bruno Torturra, salah satu jurnalis yang paling berpengelaman di NINJA, narasi yang dihasilkan NINJA telah keluar dari pakem klasik jurnalisme, namun di saat bersamaan tetap menjalankan fungsi utama profesinya. “Peran utama kami adalah mengembalikan jurnalisme pada peran pergerakan sebagai mata public dan menawarkan informasi yang berkualitas untuk mempertahankan demokrasi,” menurut Bruno. “Saya tidak tahu apakah kami akan memiliki buku panduan; menurut saya akal sehat adalah panduan kami.” Sehubungan dengan fact-checking, salah satu pilar jurnalisme, Torturra mengatakan dia percaya masyarakat yang memfollow web mereka akan membuat mereka akuntabel. 


Meskipun begitu, kelompok jurnalistik ini belakangan menuai kritik, setelah pejabat Eduardo Pae mengundang NINJA untuk wawancara, ribuan netizen menyaksikan siarannya, tapi setelah itu banyak yang mengkritik kekurang persiapan dari para ninja selama proses wawancara.


NINJA merespon kritik tersebut di laman facebook mereka. “adalah lewat proses, pengalaman, melalui transparansinya, melalui real test, live, dan tanpa potongan, dimana kami berkembang maju. Membangun basis audiens dan kolektif kami. Dan kami senantiasa berpikir, dengan segala pilihan salah atau benar, demi menghasilkan produk jurnalisme yang layak mendapat kepercayaan dan menjawab ekspektasi masyarakat pada Midia NINJA.”


Profesor jurnalisme Sylvia Moretzsohn menolak argumentasi NINJA, “Tidak ada yang namanya ‘lewat pengalaman, real test dsb’ hal tersebut dapat berkembang maju. Jurnalisme sesuatu yang lebih dari itu, dan membutuhkan persiapan. Tidak cukup hanya mencemplungkan dirimu dengan kepala batu ke dalam situasi peliputan atau proses wawancara yang belum kamu kuasai. Kurang bijaksana jika mengabaikan beragam taktik yang diajarkan pada training jurnalistik. Tidak ada jalan pintas untuk melakukannya, salah-salah justru akan menguntunkan pejabat yang akan dikritisi.


Setelah episode wawancara dengan pejabat setempat tersebut usai, Torturra mengakui bahwa pihak kolektif gagal mengintegrasikan publik ke dalam proses wawancara, dan kurang menyiapkan diri untuk menghadapinya. “Kami butuh melibatkan jurnalis berpengalaman kedalam pembicaraan ini untuk memahami letak kegagalan kami.”

Tapi terlepas dari ketegangannya dengan jurnalisme tradisional, bentuk baru jurnalisme yang ditawarkan NINJA terus berkembang. Rafael Vilela, salah seorang anggota kolektif yang pergi ke Mesir untuk meliput aksi massa disana, mengatakan bahwa NINJA merupakan sebuah inovasi untuk mencari bentuk baru dari jurnalisme. “Hari ini konten-konten kami telah berkumandang jauh sampai ke pelosok negeri. Hal yang paling penting yang telah dicapai NINJA adalah memberikan pencerahan terhadap bentuk baru dari jurnalisme yang tidak ada dalam media massa tradisional.”


Sumber : knightcenter.utexas.edu

No comments

Powered by Blogger.