Kiri Sosial membuka ruang bagi kawan-kawan yang ingin berkontribusi pada Kirisosial.blog. Kami menerima kontribusi dalam bentuk artikel terjemahan yang memuat tentang inspirasi gerakan yang partisipatif atau tentang inspirasi persatuan. Silahkan kirim terjemahan anda melalui inbox FB atau kirim melalui kirisosial@gmail.com. Terimakasih

PUTARAN KEDUA PEMILU PRANCIS: SAYAP KIRI AJAK MENOLAK TUNDUK


Kaum Kiri Prancis Tidak Ingin Mendukung Macron, Meskipun Ancaman Fasis yang akan dilakukan oleh Le Pen


Oleh: Marion Deschamps


TeleSUR berbincang dengan dua pakar Prancis untuk membahas pemilihan presiden putaran kedua hari Minggu nanti.

Pemilih dihadapkan pada pilihan yang sulit dalam pemilihan presiden putaran kedua ini yakni Emmanuel Macron, seorang mantan mentri ekonomi dengan pemimpin sayap kanan, xenofobia, Front Nasional anti-Uni Eropa, Marine Le Pen.

Menghadapi pemimpin Front Nasional anti Uni Eropa seharusnya membuat kemenangan Macron lebih mudah, namun keangkuhan dan kesalahan taktik Macron mendorong niat para pemilih untuk tidak memilihnya. Pada hari Selasa, jajak pendapat internal pendukung kandidat sayap kiri, Jean-Luc Melenchon, menunjukkan bahwa lebih dari 65 persen dari mereka menyatakan akan merusak surat suara mereka atau tidak datang ke tempat pemilihan. Melenchon yang didukung partai komunis, yang memimpin "France Insoumise", atau gerakan Prancis Menolak Tunduk, memenangkan lebih dari 7 juta suara dan ia berada di urutan keempat dalam putaran pertama pemilihan pada 23 April.

Sementara media mainstream dan elit politik Prancis memulai kampanye yang mengancam kaum kiri karena diduga membuka jalan menuju pemilihan Le Pen, teleSUR menghubungi dua orang pakar tersebut untuk lebih memahami peta politiknya.

Diane Scott, pemimpin redaksi majalah Incise, memilih kandidat Partai Anti-Kapitalis Philippe Poutou di putaran pertama, meskipun begitu ia mengaku "bahagia" dengan skor bagus Melenchon. Dia mengatakan bahwa dia menolak untuk memilih di antara dua kandidat (Macron dan Le Pen) dan telah memutuskan untuk tidak datang ke tempat pemilihan pada hari Minggu. Dia baru-baru ini menjelaskan keputusannya dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Mediapart.

Olivier Tonneau, dosen bahasa modern di Homerton College, adalah anggota "Parti de Gauche" milik Melenchon, atau Partai Kiri, dan bagian dari Dewan Perlawanan Terhadap Kekerasan. Setelah membatah argumen yang memperdebatkan dirinya dalam artikel di Mediapart dan The Guardian yang menyatakan dirinya abstain, dia mengaku bahwa pada akhirnya dia akan memilih Macron pada hari Minggu, karena dia khawatir kesalahan yang dilakukan Macron akan berujung pada kemenangan Le Pen.

"Prioritas utama jangka panjangnya adalah melawan sayap kanan dan mengetahui perilaku pemilih yang lebih memilih abstain," katanya kepada teleSUR.


1) Macron tidak mewakili rakyat, dia dipaksa oleh pemilik modal.

Dengan wacana yang dimiliki, pendukung Macron mengutarakan "demokrasi yang mereka bayangkan seharusnya tidak pernah berhenti pada ungkapan: hanya sebuah ilusi semata," kata Scott, ia membandingkan kampanye presiden saat ini dengan kampanye 2005 yang mendukung Perjanjian Konstitusional Neoliberal Eropa. Ketika para pemilih menolaknya dalam sebuah referendum yang cukup menyita perhatian, media mainstream terus mengkritik keputusan elit politik bahkan sebelum hasil kongres keluar. Sekarang, kata Scott, "penghinaan yang dilakukan terus menerus itu berubah menjadi kebencian yang memalukan."

Sementara itu, tambah Tonneau, media mainstream berusaha keras untuk mendiskreditkan Melenchon begitu ia melonjak dalam pemilihan sebagai penantang. Misalnya, usulan Melenchon untuk memecahkan kesulitan Guyana (bekas koloni Prancis yang berada di Amerika Selatan) dengan kerja sama ekonomi dan solidaritas dengan anggota Aliansi Bolivarian untuk Rakyat, atau ALBA, dan media Prancis mengartikan: "jika Melenchon terpilih, Prancis akan bergabung dengan aliansi militer, ALBA, termasuk Iran dan Suriah. "

2) Macron berpartisipasi dalam sebuah pemerintahan yang tidak bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia dan penghancuran demokrasi.

"Secara pribadi, sejak keadaan darurat dan terjadi reformasi perburuhan, saya bersumpah untuk tidak memilih Partai Sosialis, apapun yang terjadi," kata Scott. "Haruskah kita menerima kediktatoran dan pemulihan (restoration)* perbudakan atas nama perang melawan Front Nasional?" Dia juga mengingat pembunuhan seorang aktivis lingkungan oleh polisi militer dan banyaknya kasus warga kulit hitam atau Arab yang terbunuh atau diperkosa oleh polisi ketika pemerintah Partai Sosialis Francois Hollande berkuasa. Hollande juga berulang kali menggunakan perintah eksekutif dan konstitusinya dalam rangka meloloskan pemilihan di parlemen terkait berbagai kebijakan yang tidak populer, sementara keadaan darurat negara justru dijustifikasikan dengan serangan polisi ke penduduk Muslim yang hidup dalam keadaan damai serta penahanan belasan aktivis lingkungan di negara tersebut.

"Saya tidak meremehkan ancaman (dari pemerintah Front Nasional)," kata Scott, namun dia menambahkan bahwa pemerintah Hollande telah melewati batas dengan cara merusak demokrasi dan Macron merupakan representasi dari hal ini.

Menurut Tonneau, sama seperti Scott, menunjukkan bahwa Macron telah mengumumkan bahwa dia tidak akan ragu untuk menggunakan executive order jika terpilih. Macron juga bersikeras bahwa dia ingin para pemilih mendukungnya hanya jika mereka mendukung programnya - sebuah strategi berbahaya yang mengasingkan calon pemilih potensial menjelang pemilihan 7 Mei.

3) Memerangi fasisme sebagai bagian dari strategi pendirian untuk tetap berkuasa.

Melenchon menerima hujatan setelah dia menolak mengajak pendukungnya untuk memilih Macron melawan Le Pen, seperti yang dilakukannya pada tahun 2002 ketika dia mendorong pendukungnya untuk memilih Presiden Jacques Chirac yang sedang menjabat untuk menghalangi kemenangan Jean-Marie Le Pen.

Tapi 15 tahun kemudian, Scott mencatat, skenario ini sangat berbeda: sementara hasil tahun 2002 mengejutkan semua pihak, kali ini partai tradisional dan media mainstream bersiap dan mengharapkan kemenangan yang melawan sayap kanan.

Argumen ini terbukti dengan sangat mengejutkan oleh perayaan kemenangan Macron atas hasil putaran pertama di sebuah restoran mewah di Paris, dengan kurun waktu kurang dari seperempat waktu menuju putaran kedua, dia sudah menerima begitu saja pemberian suara anti-Le Pen untuk mendukungnya pada putaran kedua.

Penetapan "anti-Le Pen" yang strategis tidak ada artinya, menurut Scott, karena Le Pen adalah bagian dari strategi partai mainstream untuk mempertahankan kekuasaan dan melaksanakan agenda neoliberal mereka. Macron, mantan bankir investasi di Rothschild, mungkin tidak secara resmi menjadi bagian dari partai-partai tersebut, namun dia mengilhami sebagian besar kebijakan ekonomi pemerintah sosialis.

"Dunia keuangan bahkan tidak berusaha membentuk politisi tapi mencari mereka langsung dari sumbernya," kata Scott.

Sedangkan menurut Tonneau, apa yang menyebabkan lonjakan paling kanan di seluruh dunia bukanlah abstain pemilih kiri, tapi "kediktatoran dunia keuangan," dan Macron adalah representatif dari hal tersebut. Jika Melenchon memerintahkan dukungan untuk Macron, dia kemungkinan akan kehilangan banyak dukungan di antara militan yang tidak bersenjata*, karena mereka menolak untuk "tunduk" pada sistem tersebut.

"Kami bukan mesin pembersih Anda, yang mau mengambil sampah di belakang Anda karena Anda telah menghancurkan masyarakat sedikit demi sedikit," kata Tonneau.

4) Mengapa pemilih sayap kanan akan tetap memilih Le Pen? 

Yang terakhir namun tidak kalah pentingnya, Macron tidak berusaha merayu suara sayap kiri potensial. Dia menegaskan bahwa dia tidak akan mengubah programnya, atau bernegosiasi dengan kandidat lain dalam upaya menarik tiga perempat orang Prancis yang tidak memilihnya pada 23 April.

Kita harus bertanya pada diri sendiri mengapa kampanye penggiringan suara ini hanya ditujukan pada pemilih sayap kiri, dan bukan kepada pendukung Francois Fillon yang konservatif (20 persen di babak pertama) yang akan melakukan abstain (26 persen di antaranya, menurut sebuah survei Ifop yang dirilis Selasa) atau memilih Le Pen (30 persen). Sementara itu, suara yang sama sepertinya tidak menarik untuk meyakinkan pendukung utama Le Pen untuk mengubah pikiran mereka.

Namun, gerakan politik Melenchon berhasil meyakinkan para pelaku abstainis dan pemilih Front Nasional lebih banyak daripada partai lainnya, yang tercermin dari lonjakan 9 poin yang menakjubkan dalam jajak pendapat dalam waktu kurang dari sebulan sebelum putaran pertama, kata Tonneau. Menurut berbagai penelitian, pemilih yang ditinggalkan oleh Partai Sosialis - seperti kelas pekerja, pemuda dan imigran Prancis yang tinggal di pinggiran kota yang terpinggirkan - memilih Melenchon, atau memilih kandidat lain agar Le Pen tidak menang pada pemilihan.

Sumber:
telesurtv.net

No comments

Powered by Blogger.