Kiri Sosial membuka ruang bagi kawan-kawan yang ingin berkontribusi pada Kirisosial.blog. Kami menerima kontribusi dalam bentuk artikel terjemahan yang memuat tentang inspirasi gerakan yang partisipatif atau tentang inspirasi persatuan. Silahkan kirim terjemahan anda melalui inbox FB atau kirim melalui kirisosial@gmail.com. Terimakasih

BOS SERAKAH, SUPIR MELAWAN

Kejar untung 107 juta dollar, 460 supir tangki pertamina di PHK.
PT Pertamina Patra Niaga yang salah satu jenis usahanya adalah Industri BBM Ritel, yang meliputi area Surabaya, Jakarta (Tj. Gerem, Tj. Priok, Plumpang), Lampung, Semarang, Banjarmasin dan Balikpapan, Palembang, Bangka, Bandung, Balongan, Pekanbaru, Bali, Medan, Samarinda, Sambu, Dumai, Siak dan Makasar, Manado, Bitung, Tarakan, Teras Boyolali, Cilacap, Sorong, Tual, Ambon, dan lain-lain (
http://www.pertaminapatraniaga.com/about-u…/portfolio-id-ID/)

JUSTRU menerapkan SITEM KERJA OUTSOURCING (Melalui vendor PT GUN--yang bahkan tak ada webiste nya) untuk SUPIR-SUPIR YANG MENGEMUDIKAN MOBIL TANGKI, padahal seharus pekerjaan sebagai supir di Pertamania Patra Niaga TIDAK BOLEH DENGAN SISTEM BURUH OUTSOURCING, karena MERUPAKAN pekerjaan INTI dari bisnis RITEL BBM.

Demo Ratusan Supir Tangki Menolak PHK
Dengan target keuntungan sebesar 107 juta dollar, para BOS mengambil kesejahteraan kaum buruh, yang bahkan kali ini jusrtu melakukan PHK terhadap 460 supir tangki ini, dimana sebelumnya ratusan supir ini pernah melakukan mogok kerja di bulan november 2016 untuk menuntut : pembayaran uang lembur, pembayaran uang migas, standar kerja 7 jam kerja/hari, dan pengangkatan semua supir jadi buruh tetap.           (http://www.pikiran-rakyat.com/…/sopir-pertamina-ancam-mogok… )

Namun, setiap keserakahan, ketidak adilan, pasti berbuah perlawanan, dan hari ini ratusan supir dengan dukungan solidaritas dari berbagai supir lainnya, dari buruh-buruh lainnya, dari berbagai organisasi, melakukan aksi demonstrasi dalam semangat bulan puasa-bulan untuk menegakkan keadilan, di depan kantor pusat PT Pertamanina Patra Niaga, Kuningan, Jakarta.
#Lawan_PHK_Liar
#Hapus_Sistem_Outsourcing
#Angkat_Supir_Jadi_Buruh_Tetap

Berikut ini, Siaran Pers, Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia,

Buruh Pertamina Patra Niaga Tolak PHK Sepihak
Rabu, 31 Mei 2017

Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) menolak PHK sepihak pada buruh Pertamina Patra Niaga. FBTPI menganggap PHK itu tidak sah. “Ada sekitar 300an org yang ter-PHK. Yang dari anggota serikat yang sudah terdata ada sekitar 174,” kata Ketua Umum FBTPI Ilhamsyah.

Sebagai bentuk perlawanan, ratusan buruh transportasi melakukan aksi unjuk rasa di kantor Pertamina Patra Niaga pada Rabu, 31 Mei 2017. Perusahaan melakukan PHK melalui vendor PT.Garda Utama Nasional pada Selasa, 30 Mei 2017. Sejak itu, serikat sudah berupaya untuk melakukan perundingan. “Kami terpaksa melakukan unjuk rasa karena perusahaan mengabaikan perundingan,” imbuh Ilhamsyah.

FBTPI menganggap sekitar 1000 buruh pengangkut BBM itu seharusnya sudah menjadi karyawan tetap dan tidak dapat di-PHK semena-mena. Sebelumnya, Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara sudah dua kali menganjurkan bahwa buruh outsourcing di Pertamina Patra Niaga demi hukum menjadi karyawan tetap. Ini karena perusahaan tidak sah menggunakan outsourcing untuk inti produksi.

Menimbang fakta tersebut, PT.Pertamina Patra Niaga tidak bisa lepas tangan dengan mengatakan PHK di vendor “bukan urusan perusahaan.” “Kita akan tetap berpatokan pada nota pemeriksaan pertama dan khusus kedua yang menyatakan jadi karyawan tetap Patra Niaga,” kata Ketua FBTPI Pertamina Patra Niaga Nuratmo.

FBTPI juga menganggap PHK sepihak ini sebagai bentuk pelemahan serikat. Sejak Februari hingga April, perusahaan merekrut ratusan karyawan baru. “Pengurangan besar-besaran dimulai dengan perekrutan pekerja baru besar-besaran ,” ujarnya.

Sebelumnya, pengurus serikat buruh Pertamina Patra Niaga di Padalarang dan Bandung juga sempat dilarang bekerja hanya karena mengikuti aksi Hari Buruh di Jakarta. Aksi protes akhirnya membuat mereka dapat bekerja kembali.

Pada November , sekitar 1000 buruh FBTPI di Pertamina Patra Niaga melakukan aksi mogok kerja. Mereka memprotes status alih daya dan kontrak berkepanjangan. Selain itu, para Awak Mobil Tangki juga mendesak penghapusan kondisi kerja yang membahayakan nyawa. Di antaranya adalah jam kerja berkepanjangan.

Jam kerja hingga 12 jam lebih membuat buruh yang membawa bahan mudah terbakar itu rentan kecelakaan. Sejak Desember 2015, sudah tiga kali truk tangki dari depo Plumpang tersebut terbakar. Empat buruh tewas terpanggang dalam kecelakaan tersebut.


Ketua Umum Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia

Ilhamsyah


Ketua Umum FBTPI Pertamina Patra Niaga

Nuratmo

No comments

Powered by Blogger.